bertutur
Bertutur Dalam Wacana
Langkah saya selalu saja lambat. Mungkin memang harus punya cerita berbeda. Sebuah langkah orang yang benar benar biasa.
Saya tidak pandai bertutur dalam bicara. Saya cuma bisa menjadi pendengar Dan apa yang di obrolkan menjadi pelajaran berharga buat saya.
Terkadang saya suka di landa rindu,manakala menemukan wajah lama dalam berbagai bentuk,kemudian hening menuntun saya tuk bicara dalam bahasa aksara.
Duh lalu,ramahmu masih sangat lekat. Saya tidak banyak menyimpan fhoto,cuma tulisan yang kadang menerbangkan ingatan saya ke biru putih Dan putih Abu. Selebihnya saya hanya berkawan dengan jalanan Dan sorot Mata tajam penuh curiga.
Lalu sempat menyampaikan saya ke dalam dunia sejuk,yang tak jauh Dari keringat,tapi nyamannya begitu mengangkat harkat.
Saya banyak di tinggalkan kawan,terkadang saya trauma Dan hanya bersembunyi dalam rutinitas,lalu wajah lama,kembali menterjemahkan,agar silaturahmi itu tetap terjaga.
Hasilnya Ada yang memberi senyum,Ada pula yang takut menutup diri Dan saya merasa saya telah berusaha tuk bisa berkomunikasi.
Di dunia Maya banyak cerita silih berganti,untuk saat ini saya melihat Ada wajah bahagia di Mata Para sahabat.
Sedang saya masih saja terus mencari,karena saya punya cerita berbeda untuk di tuturkan.
Komentar
Posting Komentar